Laut yang Menenggelamkan Kebahagiannya
Surabaya, 11 tahun lalu.
Jika diurutkan bagaimana bentuk kebahagiaan Samudra, maka yang pertama adalah keluarga, lalu menulis puisi, dan yang terakhir adalah pergi bermain ke laut atau pantai.
Kala itu Samudra tengah membolak-balikkan kalender guna mencari tanggal merah— melihat ada tidaknya hari libur di sana. Dan hal ini sudah menjadi kebiasaan yang sering dilakukannya.
Kala libur panjang akan tiba, ia akan menulis banyak rencana untuk pergi liburan bersama keluarganya. Terlebih lagi kala mengingat Sastra— ayahnya yang tengah mengurus perusahaan di Jakarta, serta Cakra— abangnya yang juga tengah kuliah di sana akan kembali pulang ke kampung halaman membuat dirinya menjadi semakin menggebu-gebu untuk menuliskan daftar kegiatan dan juga tempat liburan yang akan dikunjungi.
Kring... !! Kring... !!
Samudra yang mendengar dering telepon pun segera berlari untuk mengangkat panggilan suara yang sudah ia ketahui merupakan panggilan dari sang ayah.
"Halo anak Bapak."
Senyum Samudra mengembang sempurna di wajahnya. Suara yang ia rindukan akhirnya berhasil menyapa indera pendengarannya. "Halo, Bapak. Bapak kapan pulang? Ini sudah mau liburan, loh." ia mengerucutkan bibirnya sebal.
Sang ayah di seberang sana pun terkekeh membayangkan wajah cemberut anak laki-lakinya itu. "Besok Bapak sama Mas Cakra pulang kok, Sam."
"Temenan, ta?" (Beneran, kan?). Ia tak percaya.
"Beneran, Samudra."
"Yes!!" Dengan masih menggenggam telepon di tangannya, Samudra berjingkrak girang. "Aku sudah membuat daftar tempat liburan yang harus kita kunjungi. Pokoknya nanti Bapak harus lihat!"
"Wah! Anak Bapak semangat sekali, ya."
"Iya, dong," saut sang ibu yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
Chayanika yang tengah membungkuk guna menyamakan posisi tubuhnya pada sang anak pun tersenyum. "Anak e kangen buanget iki lho, Pak." (Anaknya kangen banget ini lho, Pak).
Kekehan Sastra terdengar di seberang sana. "Anak e ta awakmu?" (Anaknya atau kamu?).
Semburat merah berhasil terlukis di kedua pipi Chayanika. Ia mendengus geli, lalu menjawab pertanyaan sang suami dengan tersipu malu. "Aku juga."
Lantas, Samudra pun tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tuanya yang merajut mesra di hadapannya— membuat rasa bahagia perlahan menumpuk di kalbu.
Meskipun ratusan jarak terbentang, hal itu bukanlah menjadi penghalang. Setidaknya dari suara itu bisa mengobati rasa rindu yang membelenggu pada keluarga mereka yang jarang bertemu.
Hari esok pun tiba. Sastra dan juga Cakra telah kembali ke Surabaya. Mereka baru saja sampai pada pukul 14.50 WIB tadi. Dan sekarang mereka tengah sibuk mengeluarkan barang bawaannya yang pernah dibawa ke Jakarta juga menyusun oleh-oleh yang dibelinya.
Samudra berjalan memasuki kamar kedua orang tuanya guna menghampiri sang ayah dan memberitahu padanya perihal daftar liburan yang sudah ditulisnya.
Ia mengatakan bahwa dirinya ingin pergi berlibur ke Pulau Bali. Meskipun sudah pernah beberapa kali pergi ke sana, Samudra ingin melakukan sesuatu yang berbeda, yakni ia ingin pergi pulau tersebut menggunakan kapal feri, bukan menggunakan pesawat terbang seperti biasanya.
Anak laki-laki berumur delapan tahun itu ingin sekali menikmati suasana keindahan laut dari atas feri; mendengar debur ombak yang bersahutan dengan deru mesin kapal, atau bahkan melihat ikan yang muncul di permukaan laut.
Selain suka menulis puisi, kala ada waktu luang Samudra juga suka pergi memancing bersama sang kakek, atau sang ayah kala pria itu ada di rumah.
Samudra sangat menyukai hewan vertebrata tersebut, bahkan memeliharanya pada satu akuarium penuh. Melihat ikan yang meliuk-liuk dengan lincah di dalam air membuat Samudra merasakan sebuah kebebasan di dalamnya. Rasanya ia seperti melihat dirinya sendiri yang bebas mengekspresikan apa yang ia rasa pada tiap bait-bait indah yang ditulisnya.
Samudra— nama itu sungguh pantas untuk jiwanya yang sudah melekat terhadap laut.
"Bali terus. Bosen, ah!" cibir Cakra yang tengah berdiri di ambang pintu.
Samudra menengok ke arah abangnya. "Enggak lho, kali ini beda. Aku pengennya kita ke Bali naik kapal."
Sastra yang tak setuju pun buka suara. "Kita seperti biasa saja ya, Nak. Naik pesawat."
Samudra mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa, Pak? Aku kan ingin naik kapal supaya bisa melihat pemandangan laut yang indah itu. Lagipula, kita juga belum pernah liburan dengan menaiki kapal, kan?"
Sang ayah menghela pelan napasnya. "Gelombang laut akhir-akhir ini sedang tinggi, cuaca juga sedang buruk. Jadi, untuk meminimalisir kejadian tak diinginkan lebih baik kita menggunakan pesawat saja, ya?"
Samudra yang memang dasarnya keras kepala pun tetap mempertahankan keinginannya. "Kalau cuaca buruk dan kita naik pesawat bukannya sama saja, Pak?"
Sastra menggenggam dan mengusap punggung tangan anaknya. "Setidaknya kita bisa meminimalisir kejadian buruk, Samudra. Lebih baik kita waspada sejak awal daripada kita yang akhirnya kenapa-napa nanti karena ombak yang besar."
Samudra menepis genggaman sang ayah. "Pokoknya aku tetap ingin naik kapal, Pak!" Ia yang sedari tadi duduk di tepi ranjang pun berdiri dan melenggang pergi keluar kamar; mengabaikan suara sang ayah yang terus teriak memanggil namanya.
Tiga hari telah berlalu. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk tetap pergi menggunakan kapal feri. Ini semua berkat si ibu yang telah berhasil membujuk sang suami guna menuruti keinginan anak terakhirnya itu.
Meskipun rasa khawatir tetap menghantui sang kepala rumah tangga tersebut, Chayanika selaku istri selalu menenangkannya dengan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada kejadian buruk yang akan menimpa keluarganya.
Harapnya begitu. Semoga saja.
Peluit uap penanda keberangkatan feri bergema panjang. Lantas, Samudra yang mendengar suara itu pun lekas-lekas menarik tangan Cakra untuk segera membawanya ke geladak kapal.
Sesampainya di sana, angin kencang pun menerpa wajahnya. Benar kata sang ayah, cuaca benar-benar sedang tak bersahabat akhir-akhir ini. Awan kelabu nan pekat menyelimuti langit. Ombak besar terus menghantam hingga membuat kapal yang ditumpanginya sedikit terombang-ambing.
Namun, hal itu tak menjadi penghalang bagi Samudra untuk menikmati hal yang sangat dinantinya, yakni melihat laut yang sudah menjadi bagian dari kebahagiannya.
Samudra menengadahkan kepalanya guna menatap Cakra yang tengah menggenggam tangan mungilnya. "Apik yo, Mas." (Bagus ya, Mas).
"Iya, tapi mendung," jawabnya.
"Tapi bagus, Mas." Samudra merengek dengan mengayunkan tangannya.
Cakra hanya tersenyum semu dengan tetap menjaga pandangan lurus ke depan; menatap gelapnya laut yang sama warnanya seperti langit di atas. Laki-laki berumur dua puluh tahun itu terus bergelut dengan pikirannya sendiri; memikirkan firasat tak enak yang menggerogoti pikirannya sejak menjejakkan kaki di pelabuhan tadi.
Sama seperti sang ayah, Cakra khawatir jika akan ada hal buruk yang terjadi pada keluarganya.
"Aku kangen banget sama Mas Cakra." Tiba-tiba tubuh kecil Samudra memeluknya. Tangan si kecil pun terulur untuk memberikan sebuah buku yang berisi tentang puisi-puisinya. "Aku bikin puisi untuk Mas Cakra. Ini aku tulis saat aku lagi rindu banget sama Mas Cakra. Mas Cakra ... memangnya kuliah sesibuk itu ya sampai Mas Cakra jarang nelpon aku? Mas Cakra, jangan tinggalin Samudra, ya? Kita bareng-bareng terus ya, Mas Cakra?"
Celotehan yang keluar dari bilah bibir Samudra berhasil membuat Cakra menitihkan air matanya. Rasanya sangat sakit kala tersadar bahwa akhir-akhir ini ia jarang sekali memperhatikan adik kecilnya itu. Dan juga firasat tak enak pun kian menggerogoti pikirannya kala mendengar kalimat terakhir yang Samudra ucap.
"Kita bareng-bareng terus ya, Mas Cakra." Kalimat itu seperti pertanda bahwa akan ada perpisahan yang menyapa keduanya.
Lantas, ia pun membuka buku yang diberikan adiknya dan membaca tiap bait-bait indah yang ditulis untuknya. Setelah selesai ia pun berjongkok guna menyamakan tubuhnya pada Samudra dan menatap sendu adik kecilnya itu.
"Kamu bicara apa sih, Sam?" Cakra menyunggingkan senyumnya. "Mas Cakra janji gak bakal ninggalin kamu. Kita semua— Bapak, Ibu, Mas, dan juga kamu akan bareng-bareng terus di sini."
Kicauan dari segerombol burung gagak terdengar di atas langit kelabu. Lantas, Cakra yang percaya akan mitos tentang gagak pun membulatkan matanya. Ia menjadi semakin panik— memikirkan tentang kejadian buruk apa yang akan terjadi hari ini.
Karena firasat buruknya semakin kuat, ia pun lekas-lekas berdiri. "Samudra, ayo ma— SAMUDRA!!!"
Kapal yang ditumpanginya tiba-tiba oleng karena tertabrak oleh kapal muatan yang lebih besar di depannya. Samudra tersungkur hingga hampir merosot jatuh ke dalam air karena kapalnya yang miring.
"Mas Cakra, tolong ...," rintih Samudra.
Lantas, Cakra pun dengan sigap menghampiri Samudra. Ia menggendong adiknya itu dan membawanya untuk mengambil pelampung yang tak jauh dari jangkauan.
"Pakai ini dulu." Dengan cekatan Cakra memasangkan alat itu pada tubuh Samudra.
Namun, tiba-tiba Samudra teringat dengan kedua orang tuanya yang masih ada di dalam. "Bapak sama Ibu masih di dalam, Mas."
Pergerakan Cakra terhenti. Ia menengok ke sisi kanan di mana orang-orang sudah mulai berhamburan terjun ke laut karena tak sempat untuk menurunkan sekoci.
"Dek, ngapain di sini? Ayo segera turun, kapalnya akan tenggelam." Seorang anak buah kapal datang menghampiri mereka. Lantas, Cakra pun menggendong Samudra kembali, namun sang empu malah memberontak.
"Bapak sama Ibu masih di dalam, Mas!" Samudra menatap kesal Cakra. Ia sungguh tak mau meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada di dalam sana.
"Bapak sama Ibu pasti sudah turun terlebih dahulu, Sam. Jadi, ayo kita juga ikut turun supaya bisa bertemu Bapak dan Ibu."
Kali ini Samudra tak keras kepala dan menuruti perkataan Cakra. Ia yang digendong oleh abangnya pun hanya dapat berdoa agar kedua orang tuanya selamat dan mereka dapat berkumpul kembali.
Namun, asa yang Samudra rajut pun terputus. Sastra dan Chayanika tak ada di sana. Kedua orang tuanya belum terjun untuk menyelamatkan diri dan masih ada di dalam kapal. Mereka terjebak karena pintu yang tak dapat dibuka. Air laut pun mulai masuk memenuhi ruangan. Dua pasangan itu hanya bisa berdoa dan pasrah— membiarkan dirinya tenggelam bersama kapal yang ditumpanginya juga meninggalkan kedua anak laki-lakinya.
Samudra— ia sungguh menyesal karena tak mendengar perkataan sang ayah. Dalam pelukan Cakra yang terombang-ambing oleh ombak, ia terus menangis; menyaksikan kapal yang perlahan tenggelam dengan kedua orang tuanya yang masih ada di dalam.
Kini, laut tak lagi sama di matanya— ia tak lagi indah. Samudra yang tadinya menganggap laut sebagai sahabat, kini menganggap kumpulan air asin itu sebagai musuh yang telah menenggelamkan kebahagiannya.
Sebuah karya dari: Nur Airin Sakila Aprili